
Segala wacana yang dulu ingin kujalani bersamanya, kini hanya menjadi khayalan yang mustahil menjadi nyata.
Panorama yang pernah kuharap selamanya, kini adalah sebuah trauma yang selalu mengikat di kepala.
Padahal, seharusnya itu menjadi kenangan manis yang tidak akan pernah kulupa.
Namun, siapa yang menyangka?
Paras yang terlihat memancarkan cahaya, seolah menusuk raga yang menembus dada.
Akan tetapi, dia tetaplah manusia; yang selalu berubah seiring bergantinya masa.
Hari akan berganti, tahun akan bertambah, dan bumi akan terus berputar.
Ia mengajariku bahwa tidak ada yang akan benar-benar sama, bahkan sesuatu yang telah diikat dengan janji.
Entahlah...
Barangkali, akulah masalahnya.
Sungguh naif...
