
Kedatangannya adalah bahagia yang tak pernah kusangka. Ia kembali membuatku merasa hidup, setelah lama terpendam di dalam ketakutan.
Hari-hari yang biasanya gelap, kian berwarna kembali. Perlahan, aku mulai suka membaca tulisan yang tak pernah ada. Tertawa sendirian seperti orang gila.
Aku selalu mengaitkan aktivitasku dengan dirinya, disaat bersama atau saling berperang di tempat berbeda.
Akan tetapi, langit biru tak pernah selalu cerah. Ada kalanya ia memudar. Bukan karena keinginannya, tetapi itulah kenyataannya.
Ia tak pernah pasti.
Hari itu, semuanya kembali terasa gelap. Cerah yang kuharap menjadi nyata, perlahan melepas kembali warna aslinya.
Hal itu terjadi lagi. Semua khayalanku bak runtuh dihantam sepi yang nyata.
Kepergiannya menjadi hal yang kuharap tak pernah menjadi nyata.
